Cerita Abu Nawas sukses mengakali tuan tanah yang kikir

HARI itu puasa Ramadan memasuki hari ke dua puluh. Seperti biasa Abu Nawas duduk di beranda depan gubuknya sambil menunggu azan Magrib. Sambil menunggu matahari tenggelam, Abu Nawas memikirkan bagaimana caranya agar dapur tetap mengepul.

Abu Nawas kebingungan, tak jauh dari rumahnya ada tuan tanah yang mempunyai rumah yang sangat besar. Hampir penduduk sekitar daerah yang bekerja pada tuan tanah itu hanya mendapatkan hasil yang sedikit. Bila meminjam bahan makanan pada tuan tanah itu, maka selalu dengan bunga pengembalian yang sangat tinggi. Sebagaimana layaknya tuan tanah, ia pelit, rakus, dan tamak.

Suatu hari tuan tanah mendengar berita bahwa Abu Nawas memiliki kepribadian yang unik. Apabila meminjam sesuatu, Abu Nawas akan mengembalikannya secara lebih dengan alasan beranak. Misalnya meminjam seekor ayam, maka akan dikembalikan lebih karena ayam itu beranak. Tuan tanah lalu mencari cara agar Abu Nawas segera meminjam uang darinya.

Secara kebetulan pada sore itu Abu Nawas ingin meminjam tiga butir telur. Langsung saja tuan tanah bahagia karena pinjaman itu akan menjadi banyak nantinya. Bahkan tuan tanah tersebut menawarkan pinjaman-pinjaman lainnya. Tapi Abu Nawas hanya ingin meminjam itu saja. Dengan cepat tuan tanah menanyakan kapan bisa beranaknya telur itu? Abu Nawas menjawab, kalau itu tergantung keadaan.

Lima hari setelah itu, Abu Nawas kembali ke tuan tanah. Ia mengembalikan pinjaman tiga telur dengan lima butir telur. Tuan tanah senang bukan kepalang. Ia lalu menawari Abu Nawas untuk meminjam lagi. Abu Nawas pun memang sudah niat untuk meminjam kembali. Kali ini ia meminjam dua buah piring tembikar. Tuan tanah memberikannya dengan senang hati dengan harapan akan dikembalikan jauh lebih banyak.

Lima hari kemudian, Abu Nawas mengembalikan dua buah piring itu menjadi tiga buah. Walaupun tak seperti harapannya, tapi ia tetap cukup senang. Saking senangnya, Abu Nawas pun dipinjami uang seribu dinar, jumlah yang bisa digunakan untuk gaji puluhan pekerjanya dalam satu bulan.

Tuan tanah sudah membayangkan seberapa banyaknya anakan dari uang yang ia pinjamkan kepada Abu Nawas. Ia sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba. Tapi lima hari ditunggu, ternyata Abu Nawas tak datang. Ditunggu hingga hampir sebulan juga tak kunjung datang. Ketika tuan tanah merencanakan mendatangi Abu Nawas bersama para centengnya, tiba-tiba Abu Nawas datang. Mulanya tuan tanah gembira, tapi setelah Abu Nawas menjelaskan persoalannya, ia marah bukan main.

“Sayang sekali tuan, uang yang tuan pinjamkan bukannya beranak, malah tiga hari kemudian mati mendadak!” Mendengar hal itu, tuan tanah marah hingga hampir menghajar Abu Nawas. Untung saja hal itu tak jadi dilakukan.

Tuan tanah lalu mengadukan permasalahan itu ke pengadilan dan berharap Abu Nawas akan dihukum rajam. Di depan hakim, Abu Nawas melakukan pembelaan dengan membeberkan semua duduk persoalannya. Demikian juga dengan si tuan tanah. Abu Nawas memberikan alasan jika sesuatu bisa beranak pasti juga bisa mati.

Alasan itu ternyata dianggap masuk akal oleh hakim hingga Abu Nawas dianggap tak bersalah. Ia dianggap tidak menipu, tapi penuh akal, sedangkan tuan tanah memberikan pinjaman berdasarkan kerelaannya sendiri, bukan atas paksaan, ataupun tipuan. Seketika itu tuan tanah yang tamak itu pingsan selama beberapa jam sulit dibangunkan. Ia telah tertipu karena wataknya sendiri yang kikir, tamak dan pelit.(***)

BAGIKAN